Batery Management Sistem dengan Arduino

Akhir-akhir ini di Indonesia mulai banyak pengguna kendaraan listrik, khususnya dalam bentuk sepeda (motor listrik). Terlebih, pemerintah sudah mendukung produksi motor listrik. Dukungan pemerintah terhadap produksi motor listrik termaktub dalam Peraturan Presiden (Perpres) tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan yang ditetapkan sejak 8 Agustus 2019 lalu. Di samping itu, Kementerian ESDM tengah menggenjot program pengembangan konversi sepeda motor bermesin bahan bakar minyak (BBM) menjadi sepeda motor listrik. Biaya untuk program konversi ini mencapai Rp 10 juta per unit.

dilansir dari katadata.id, Dalam rangka percepatan penerapan program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLB), pemerintah sendiri menargetkan sebanyak 13 Juta sepeda motor listrik dan 2,2 juta mobil listrik pada 2030. Penggunaan sepeda motor listrik dan mobil listrik dengan jumlah sebesar itu berpotensi mengurangi konsumsi BBM sebesar 6 juta kilo liter per tahun dan menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 7,23 juta ton setara CO2.

Jika kita membicarakan kendaraan listrik, tentu kita pasti akan bertanya-tanya berapajarak tempuh yang bisa dijangkau dengan baterai terisi penuh? bagaimana jika ternyata listrik di baterai habis ditengah perjalanan?

sumber: electrek.co

Ternyata, sudah jamak diketahui bahwa terdapat komponen inti dalam kendaraan listrik yang bertujuan untuk mencegah masalah-masalah yang timbul dari baterai.

Nama komponen tersebut adalah BMS (Battery Management System), Seiring dengan semakin banyaknya kendaraan listrik yang mulai dipasarkan, pasti banyak yang penasaran dengan fungsi komponen di motor listrik yang tidak ditemui di mesin bensin ini.

Lalu apa sih sebenarnya fungsi dari battery management system yang berbentuk seperti lempengan part elektronik di motor listrik?

BMS adalah battery management system, atau sesuatu sistem yang berfungsi memanajemen sebuah baterai. Definisi ini tentu sudah banyak yang tahu. Namun bagaimana cara kerja pada BMS? Dan apa saja model BMS yang menyebar di baterai kendaraan listrik yang beredar di Indonesia?

Ada berbagai macam varian model BMS yang sangat banyak. BMS untuk mobil listrik, BMS untuk solar panel, BMS untuk power supply dan berbagai macam BMS dengan teknologi sangat tinggi.

Ternyata hanya baterai golongan lithium saja yang menggunakan BMS yang sering kita jumpai di lokal sekitar kita. Meskipun baterai golongan lead acid juga bisa diterapkan sebuah BMS untuk memanagement baterai. Golongan lithium yang mudah dijumpai di lokal adalah: Lithium ion 18650, Lipo, Li polymer dan Lifepo4. Alasan kenapa hanya litium saja yang di BMS, kenapa SLA (Solid Lead Acid) tidak? Jawabnya adalah faktor ekonomis, jika tanpa BMS saja bisa dipakai kenapa harus mahal-mahal menambahkan BMS pada SLA.

Ternyata, Kita bisa Lho membuat BMS dengan bermodalkan Arduino. Yups board sejuta umat ini memanglah memiliki banyak sekali fungsi.

Anda hanya memerlukan sebuah mikrokontroller arduino, Battery Protection Rellay, Sensor Arus Listrik, Sensor tegangan Listrik, dan sensor temperatur listrik. Data dari sensor tersebut bisa ditampilkan dalam layar LCD.

Apabila Anda membutuhkan jasa pengerjaan project terkait Arduino IoT dan ingin memesan project bisa melakukan pemesanan dengan klik tombol dibawah ini:

Jika ada pertanyaan terkait pemesanan project bisa menghubungi – 081325645334 (Indobot Project)

 

Leave a Comment

whatsapp